tentang penantian
Melodi petricore masih berbunyi nyaring . Hujan masih juga belum reda . Sudah jam 6 sore, itu tandanya sudah dua jam lebih aku menunggu . Satu persatu daun gugur dari pohon tempat aku berteduh. Aku mendesah. Ini sudah tahun ke empat aku mengunjungi pohon ini. Di setiap tanggal yang sama, aku akan menunggu dengan pengharapan yang masih sama.
Tetes demi tetes air hujan mengenai sepatuku . Sesekali, aku melihat ke ujung jalan, belum juga ada tanda-tanda seseorang atau lampu kendaraan . Aku mulai putus asa.
Mungkin benar . Aku harus melupakan perjanjian konyol itu. Menghilangkan bayangan dan harapan yang semu itu. Demi apapun, sungguh, setiap kali aku bersikeras untuk melakukannya, bayangan-bayangan itu semakin menjadi hari demi hari.
Handphone di tanganku bergetar. Kulihat, sebuah pesan tertera di layar.
"Interview sejam lagi. Kamu kapan balik? Pesawatmu take off 20 menit lagi kan?"
Aku menghela nafas panjang. Menghembuskannya dan mencoba menahan sesak yang hebat di dada. Ya, aku harus percaya bahwa dia tidak akan pernah datang. Janji itu hanya ucapan belaka dan bisa saja terlupakan.
Hujan sudah mulai reda . Aroma tanah basah tercium menyeruak ke dalam hidung. Baiklah, ini menjadi tahun terakhir aku ke tempat ini dan membuang segala apa yang aku harapkan dari bawah pohon ini.
Aku melangkah melewati genangan- genangan kecil menuju mobil yang terparkir di seberang jalan. Baru saja akan ku buka pintu mobil, tiba-tiba sebuah tangan mendarat di pundakku dan terdengar suara hembusan nafas yang terengah-engah. Aku terdiam. Ini mungkin halusinasiku mengingat seperti itulah pertama kali aku bertemu dengannya.
Aku mencoba mengusir perasaanku lalu kembali membuka pintu mobil. Namun, kali ini tubuhku berputar . Seseorang memelukku.
" aku harap aku tidak terlambat kali ini"
aku bermimpikah? Aku rasa tidak! Aku mengenali suaranya. Tetap tak berubah.
"Akan aku penuhi janji itu, maafkan aku"
Tak terasa, air mataku menetes. Aku mempererat pelukanku. Membiarkan air mata jatuh dan membekas di dadanya.
The end_____
Tetes demi tetes air hujan mengenai sepatuku . Sesekali, aku melihat ke ujung jalan, belum juga ada tanda-tanda seseorang atau lampu kendaraan . Aku mulai putus asa.
Mungkin benar . Aku harus melupakan perjanjian konyol itu. Menghilangkan bayangan dan harapan yang semu itu. Demi apapun, sungguh, setiap kali aku bersikeras untuk melakukannya, bayangan-bayangan itu semakin menjadi hari demi hari.
Handphone di tanganku bergetar. Kulihat, sebuah pesan tertera di layar.
"Interview sejam lagi. Kamu kapan balik? Pesawatmu take off 20 menit lagi kan?"
Aku menghela nafas panjang. Menghembuskannya dan mencoba menahan sesak yang hebat di dada. Ya, aku harus percaya bahwa dia tidak akan pernah datang. Janji itu hanya ucapan belaka dan bisa saja terlupakan.
Hujan sudah mulai reda . Aroma tanah basah tercium menyeruak ke dalam hidung. Baiklah, ini menjadi tahun terakhir aku ke tempat ini dan membuang segala apa yang aku harapkan dari bawah pohon ini.
Aku melangkah melewati genangan- genangan kecil menuju mobil yang terparkir di seberang jalan. Baru saja akan ku buka pintu mobil, tiba-tiba sebuah tangan mendarat di pundakku dan terdengar suara hembusan nafas yang terengah-engah. Aku terdiam. Ini mungkin halusinasiku mengingat seperti itulah pertama kali aku bertemu dengannya.
Aku mencoba mengusir perasaanku lalu kembali membuka pintu mobil. Namun, kali ini tubuhku berputar . Seseorang memelukku.
" aku harap aku tidak terlambat kali ini"
aku bermimpikah? Aku rasa tidak! Aku mengenali suaranya. Tetap tak berubah.
"Akan aku penuhi janji itu, maafkan aku"
Tak terasa, air mataku menetes. Aku mempererat pelukanku. Membiarkan air mata jatuh dan membekas di dadanya.
The end_____

Begitu besar dalam penantian...
BalasHapus